Memilih?
Ya, bahagia dan menderita adalah pilihan. Bagaimana mungkin memilih bahagia saat ditimpa musibah?
Kita harus membedakan antara musibah dengan penderitaan. Musibah - seperti kehilangan anak, kebakaran rumah, penyakit, kecelakaan, kemelaratan, penghinaan, pengkhianatan - berasal dari luar diri kita. Penderitaan, pada gilirannya, adalah perasaan sedih dalam jiwa kita, boleh jadi karena musibah atau bukan musibah. Musibah, kata para filsuf, adalah realitas objektif. Penderitaan adalah realitas subjektif. Musibah adalah dunia di luar diri kita. Penderitaan adalah picture in our head.
Sama halnya dengan musibah dan derita, keberuntungan juga belum tentu mendatangkan kebahagiaan. Kebahagiaan - seperti penderitaan - bersifat subjektif. Sebuah negative life event - seperti kehilangan bos - menimbulkan kebahagiaan bagi Ali dan penderitaan bagi Ani. Sebaliknya sebuah positive life event - di sini kita sebut keberuntungan - bisa membuat sebagian bahagia dan sebagian yang lain menderita.
Salah satu keberuntungan adalah sukses. Kita sering mengira bahwa sukses menyebabkan kebahagiaan. Dr Paul Pearsall, dalam penelitiannya selama bertahun-tahun menemukan orang yang justru menderita setelah sukses. Dr Pearsall membedakan antara sukses yang beracun, toxic success, dan sukses yang manis, sweet success.
dikutip dari buku Meraih Kebahagiaan oleh Jalaluddin rakhmat.


|